SEBATIK, KALIMANTAN UTARA — Sebanyak 40 kepala keluarga (KK) di Kampung Table, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, hingga April 2026 masih menghadapi keterbatasan akses listrik dan infrastruktur jalan. Kondisi ini terjadi di wilayah perbatasan Indonesia dan berdampak pada aktivitas harian warga, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga mobilitas, terutama saat malam hari dan musim hujan.
Warga setempat mengandalkan penerangan alternatif seperti pelita dan genset dengan penggunaan terbatas akibat biaya bahan bakar. Situasi tersebut membuat kegiatan belajar anak-anak serta aktivitas ekonomi masyarakat berjalan tidak optimal. Di sisi lain, keterbatasan akses energi juga memengaruhi kualitas hidup warga secara umum.
Akses jalan menuju Kampung Table juga masih berupa tanah dan belum mendapatkan penanganan infrastruktur yang memadai. Ketika hujan turun, kondisi jalan menjadi licin dan berlumpur, sehingga menyulitkan kendaraan untuk melintas. Dalam situasi tertentu, warga harus berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai titik yang dapat dilalui kendaraan, termasuk saat membutuhkan akses ke fasilitas kesehatan maupun pasar.
Salah seorang warga, Darman, menggambarkan kondisi tersebut. “Kalau hujan, kami hampir tidak bisa keluar kampung. Jalan licin dan berlumpur, kadang harus jalan kaki cukup jauh untuk sampai ke titik yang bisa dilalui kendaraan,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Hal senada disampaikan oleh pemuda setempat, Darman Othay. “Kami hanya ingin seperti kampung lain, ada lampu dan jalan yang layak, sangat miris melihat kondisi Kampung Table di Desa Sungai Limau ini. Jalan tidak layak, ditambah lagi belum ada arus listrik. Saya sering melintasi jalan tersebut bersama warga, dan kondisinya memang sangat memprihatinkan,” tegasnya. Ia berharap adanya perhatian dan langkah nyata untuk meningkatkan kondisi infrastruktur di wilayah tersebut.
Jika dibandingkan dengan sejumlah wilayah lain di Kecamatan Sebatik Tengah yang telah memiliki akses listrik dan jalan yang lebih baik, Kampung Table masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian bersama, dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti kondisi geografis, perencanaan pembangunan, serta prioritas anggaran daerah.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah daerah setempat belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi infrastruktur di Kampung Table. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan guna memperoleh informasi yang berimbang. Sejumlah pihak berharap adanya langkah terukur dan berkelanjutan agar masyarakat di wilayah tersebut dapat merasakan pemerataan pembangunan secara lebih optimal.