Sinar Itu Bernama Kirana, Gadis Kecil Perekat Mimpi dan Tanggung Jawab di Balik Panggung 6x8m


SAMARINDA – Riuh tepuk tangan menggema di dalam aula sebuah hotel bintang 4 di Samarinda, Sabtu (6/6) pagi.

Puluhan pasang kaki anak-anak kelas A2 TK Negeri 1 Samarinda menaiki panggung persegi panjang 6×8 meter.

Di antara barisan anak-anak berbaju hitam polos, bercelana motif batik, dan bertopi caping khas itu, nampak satu senyum yang memancarkan kemenangan luar biasa. Kirana Safiyya Putri, anak perempuan cantik kelahiran Januari 2021 silam.

Bagi sebagian orang, penampilan dalam pentas seni bertema Ekspresi Anak Hebat dalam Ragam Profesi hari itu mungkin sekadar pertunjukan sekolah biasa.

Namun tidak bagi Fahri, ayah Kirana, sapaan akrabnya. Setiap detik Kirana berdiri di atas panggung, bernyanyi, dan tertawa bersama teman-temannya adalah sebuah keajaiban kecil yang membuat rasanya campur aduk penuh keharuan.

Anak perempuan yang diidamkan kehadirannya ditengah keluarga kecil. Menjadi obat dikala lelah mendera. Seakan lupa hari ini rupiah anjlok kedasar paling bawah sepanjang sejarah.

Tepat setahun yang lalu, ia melangkahkan kaki mungilnya ke gerbang Taman Kanak-kanak. Baginya yang seolah bermusuhan dengan matahari pagi tentu bukanlah perkara mudah.

Demi mimpi dan menjalankan kewajiban sebagai orang tua, sang ayah dengan tegas sedikit sendu menghantarkan Kirana melawan rasa kantuk yang masih mendera kala itu.

“Rencana memasukkan sekolah TK ini sebenarnya bukan semata-mata hanya ingin dia belajar, tapi juga agar dia membaur. Saya ingin memperlihatkan kepada Kirana bahwa ada orang-orang di sekitarnya bukan hanya orang tua, ada teman-teman seumuran dia,” ungkap sang ayah mengenang awal proses tersebut.

Perjalanan setahun terakhir penuh dengan dinamika. Ada hari-hari di mana Kirana harus terlambat atau bahkan terpaksa libur sekolah karena tergantung pada suasana hatinya (mood).

Namun, rumah kedua bernama TK Negeri 1 Samarinda itu ternyata menjadi ruang aman bagi Kirana untuk bertumbuh.

Di balik layar tumbuh kembang Kirana, ada sosok Ibu Maria. Guru kelas A2 yang bagi sang ayah pribadi layak dinobatkan sebagai guru tersabar.

Lewat ketelatenan Ibu Maria, banyak hal baik yang dipelajari Kirana. Dari anak yang sempat kesulitan membaur, kini Kirana sudah belajar abjad, bisa menghitung, hingga menghafal doa makan dan doa tidur.

Hari ini, semua proses dan rasa lelah itu berbayar tuntas. Tidak ada lagi Kirana yang takut pada dunia luar. Yang ada hanyalah Kirana yang ceria, berfoto bersama Ibu Maria dan teman-teman A2, merayakan kemeriahan masa kecil yang indah di kota kelahiran yang sama dengan ayahnya, Samarinda.

“Bahagia sekali rasanya menjadi orang tua. Apapun itu, saya menikmati sekali,” tutur sang ayah dengan penuh rasa syukur.

Kirana telah membuktikan bahwa di bawah bimbingan guru yang sabar dan kasih sayang orang tua yang luar biasa, ia berhasil menjadi anak hebat yang berani mengekspresikan dirinya.

Kini matahari pagi bukan lagi musuhnya, tapi kawan sejati yang menemani langkah kecilnya mengejar mimpi.

Panggung 6×8 meter itu menjadi saksi, dibalik tangis dan tawanya ada sinar terang yang memikul harapan. Sinar itu bernama Kirana. *)

Facebook
Threads
Telegram
WhatsApp